chapter 11
Operational amplifier (op-amp) merupakan salah satu komponen aktif yang sangat penting dalam dunia elektronika, khususnya pada aplikasi pengolahan sinyal analog. Op-amp banyak digunakan karena kemampuannya dalam memperkuat sinyal dan melakukan berbagai fungsi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, integrasi, dan diferensiasi.
Pada tugas ini, dilakukan simulasi dan analisis terhadap suatu rangkaian aplikasi op-amp yang terdiri dari tiga tahap, yaitu penguat non-inverting, penguat inverting, dan tahap penguat inverting tambahan. Masing-masing tahap memiliki konfigurasi resistor yang menentukan besar penguatan (gain) dari sinyal input yang diberikan. Rangkaian ini disimulasikan menggunakan IC LM124 yang memiliki empat buah op-amp dalam satu paket.
Tujuan dari pembuatan tugas ini adalah untuk memahami prinsip kerja op-amp dalam berbagai konfigurasi serta menganalisis respon tegangan output berdasarkan nilai komponen yang digunakan. Dengan ini, diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai desain dan penerapan rangkaian penguat dalam sistem elektronika.
- Menjelaskan cara kerja penguatan bertahap pada rangkaian op-amp.
- Menghitung penguatan total dengan mengalikan penguatan tiap tahap.
- Memahami pengaruh resistor pada penguatan masing-masing tahap
- Voltmeter
- Sumber AC
- Resistor
- Ground
- Op-amp
Op-amp sering dikonfigurasikan dalam beberapa jenis rangkaian penguat. Dua konfigurasi dasar yang umum digunakan adalah:
Penguat non-inverting
Konfigurasi ini menghasilkan output yang sefasa dengan sinyal input. Rumus penguatannya adalah:
A = 1 + (RF / R)
Di mana:A adalah penguatan
RF adalah resistor umpan balik
R adalah resistor input ke ground
Penguat inverting
Konfigurasi ini menghasilkan output yang berlawanan fasa (180 derajat) dengan input. Rumus penguatannya adalah:
A = - (RF / R)
Tanda negatif menunjukkan bahwa output terbalik terhadap input.
A. -1,8 volt
B. +1,8 volt
C. -2,0 volt
D. +2,0 volt
Jawaban: A. -1,8 volt
2. Sebuah op-amp digunakan sebagai komparator. Input inverting diberi tegangan 2,5 volt dan input non-inverting diberi tegangan 1,2 volt. Maka tegangan output op-amp ideal adalah …A. 0 volt
B. Tegangan suplai positif
C. Tegangan suplai negatif
D. Tidak berubah
Jawaban: C. Tegangan suplai negatif
3. Sinyal kotak diberikan ke masukan rangkaian integrator berbasis op-amp. Bentuk sinyal keluarannya adalah …A. Sinyal kotak
B. Sinyal segitiga
C. Garis lurus naik atau turun
D. Sinyal sinus
Jawaban: C. Garis lurus naik atau turun
Jawaban:
Penguatan = 1 + (47 dibagi 3) = 16,67 kali
Jawaban:
Tegangan referensi 2 volt dihubungkan ke input positif op-amp, sinyal dari sensor ke input negatif. Saat tegangan sensor lebih kecil dari 2 volt, output akan tinggi.
Jawaban:
Sinyal keluarannya akan berbentuk segitiga naik turun secara linier.
1. Sebuah mikrofon menghasilkan sinyal sebesar 15 milivolt. Anda diminta merancang penguat op-amp agar sinyal tersebut menjadi 1,5 volt untuk dibaca oleh mikrokontroler. Berapa kali penguatan yang dibutuhkan, dan bagaimana konfigurasi op-amp yang cocok?
Jawaban:
Penguatan yang dibutuhkan adalah 100 kali. Konfigurasi yang cocok adalah penguat non-inverting, misalnya menggunakan resistor 10 kilo ohm dan 990 kilo ohm.
Jawaban:
Input negatif dihubungkan ke sensor, input positif diberi tegangan referensi 1,5 volt. Jika tegangan sensor turun di bawah 1,5 volt, output akan tinggi dan alarm aktif.
Jawaban:
Op-amp dikonfigurasi sebagai integrator dengan menambahkan resistor di input dan kapasitor pada umpan balik. Output op-amp akan mewakili kecepatan sebagai hasil integrasi dari sinyal percepatan.







Komentar
Posting Komentar